Niki Niku Napa ?

Pendapa saya ini saya gunakan sebagai ruang tamu rumah saya. Dari pendapa ini sampeyan boleh jalan-jalan menuju senthong ( kamar ) yang sengaja saya buka bagi para tamu untuk melihat-lihat barangkali ada sebutir dua butir catatan, pendapat atau pemikiran saya yang mudah-mudahan bermanfaat bagi para tamu. Silahkan masuk tanpa perlu kulanuwun segala. Selamat datang dan silahkan melihat-lihat tanpa perlu sungkan-sungkan.

------------

07 September 2009

Teknologi Tepat Guna dari Pasir Muncang

Crest Damper dari Pasir Muncang 

// Telah dimuat di milis IA-ITB dengan message no. 44154, Maret 11, 2009
// Maaf apabila salah menyebut nama para pelaku, mohon dikoreksi. 

Bantar Gebang, 10 Maret 2009.


Minggu sore lalu (8/03/2009) saya nonton reality show di TransTV judulnya Jika Aku Menjadi, sebuah acara yang bagus yang memberi kesempatan bagi pemuda-pemudi ekonomi kelas atas untuk mengenal sulitnya kehidupan orang-orang ekonomi-susah. Kisahnya tentang mahasiswi bernama Tiara yang ngenger beberapa hari di rumah Mang Aput ( atau mang Adul saya lupa persisnya, maaf kalau salah, tolong dikoreksi ) si penjual kacang. Lokasi kisahnya di desa Pasir Muncang di sekitar Purwakarta atau Plered. Entah lokasi persisnya, tapi terekam di tayangan tersebut ada kereta api yang melintas di jembatan kremona di sekitar daerah tersebut. Ok bukan soal si mahasiswi dan kacangnya ( jangan berpikiran jorok, yang saya maksud kacang-rebusnya Mang Aput tentunya) yang akan saya bicarakan disini, tapi ada hal menarik yang diragakan oleh si mamang saat mikul tong air dari sumbernya ke rumahnya yang agak jauh dan menanjak. Bisa diperkirakan saat dipikul air dalam tong plastik yang terbuka ( -/+ 35 literan ) akan terguncang-guncang dan tumpah. Semakin cepat jalan si pemikul bisa dipastikan makin banyak air yang tumpah.

Tapi nanti dulu, suatu pengatasan-masalah yang amat cerdik ditunjukkan oleh si mamang. Dia sobek selembar daun pisang lalu ditaruh di air di tong yang dipikul. Tentu si daun mengapung. Daun pisang menutup sebagian ( sekitar 60 ~70%) permukaan air di setiap tong. Dan lhadalah saking kersaning Allah, .... ada sesuatu yang amazing di mata saya. Air yang dipikul tersebut tidak tumpah, atau paling tidak hanya sedikit sekali yang tumpah.

Ini bener-bener teknologi tepat guna yang bener-bener berguna secara tepat pada situasi semacam itu. Sungguh tidak selintaspun saya pernah memikirkan problem solving semacam itu meski dulu sering melihat orang mikul air dan tumpah ruah (lihat sketsa gambar 1.A dan 1.B ).





Sambil nonton sisa ceritanya saya merenung-renung dan mencari-cari alasan-sains di balik peristiwa yang saya anggap mengagumkan tersebut. Akhirnya dapatlah jawaban versi saya. Maaf, mungkin saja analisa saya tidak benar mengingat saya tidak cukup menguasai ilmu mekanika fluida secara jauh dan utuh. 

  1. Daun yang mengapung di tong air akan mengurangi luas permukaan air yang terbuka.
  2. Pada saat dipikul goyangan air hanya terjadi di permukaan air yang sempit dibanding bila tanpa diberi daun pisang.
  3. Hal ini lebih lanjut akan memperkecil atau meredam osilasi gelombang air yang terjadi saat dipikul.
  4. Daun pisang memberikan damping pada osilasi permukaan air yang terjadi. Bahkan mungkin over-damped, jadi tidak akan terjadi peaking.
  5. Seperti seharusnyalah, damping akan menyebabkan crest-factor (= peak / rms ) yang kecil dibanding tanpa damping.
  6. Juga, tergantung dari versi mana membacanya (misal versi tukang elektro dan tukang akustik) - daun-pisang tersebut dapat dipandang sebagai low-pass filter pada spektra frekuensi yang muncul pada permukaan air di tong tersebut. Jadi osilasi tidak berlanjut

    Okelah saya nggak mau berteori ataupun ber-sastra-teknik pada bidang yang tidak saya kuasai. Namun kemudian terpikir mustinya crest-damper dari Pasir Muncang tersebut dapat dimanfaatkan pada aplikasi teknologi yang lebih serius. Salah satu yang segera melintas di kepala saya adalah tanki BBM atau tanki cairan lainnya. Untuk tanki yang panjang terdapat masalah adanya goncangan atau pontang-pantingnya cairan di dalam tanki saat kendaraan berjalan, terutama saat berkelok-kelok, mengerem atau akselerasi. Hal ini akan menyebabkan kumulasi goncangan yang dapat menyebabkan ketidak-setabilan yang serius (bergeser-gesernya titik-berat), yang memungkinkan tergulingnya kendaraan. 



    Secara tradisi solusinya adalah membuat cekungan di bagian tengah dari tanki (lihat gambar 2.B). Cara ini akan mengurangi luas permukaan cairan di dalam tanki, yang lebih lanjut akan memperkecil peak gelombang yang timbul. Cara ini berhasil baik karena terbukti banyak diwujudkan pada tanki yang ekstra panjang. Cara lain yang mungkin dilakukan adalah memasang sejumlah horizontal-bar di dalam tanki untuk meredam atau sebagai deflektor goyangan cairan ( saya belum pernah melihat dalamnya tanki yang ekstra panjang ). Akan tetapi hal yang pasti dan nyata terlihat adalah, kontruksi-kontruksi semacam itu pasti total cost-nya lebih besar dan volumenya lebih kecil dibanding tanki tanpa cekungan pada panjang tanki yang sama ( gambar 2.A).


    Kembali ke desa Pasir Muncang, mustinya teknologinya Mang Aput bisa dimanfaatkan untuk mobil tanki fluida. Dengan mekanisme floating-carpet barangkali ( sekali lagi harus saya sebutkan barangkali ) kita bisa membuat tanki fluida panjang tanpa cekungan, tapi ditambah karpet-apung yang digunakan untuk meredam osilasi yang akan muncul seperti sketsa yang saya buat di gambar 2.C. Entah bahan apa yang tepat untuk itu asalkan tentunya jangan daun pisang. Dan bagaimana realisasinya silahkan untuk meng-elaborate-nya lebih lanjut.

    Atau bisa jadi metoda ini bisa dimanfaatkan dalam penyelamatan kecelakaan di perairan terbuka seperti misalnya kecelakaan di laut. Pasukan penolong di
    samaritan-boat atau rescue-boat akan lebih mudah menolong korban apabila ombak di area kecelakaan laut tidak tinggi. Mungkin saja dengan sejumlah inflatable-carpet yang ditebar dan di-integrasi secara sistematis akan mampu mengurangi atau menekan peak gelombang di area bencana dan rescue area.

    Saya tidak cukup modal pengetahuan dan kebisaan untuk membuat model matematis tanki fluida dengan damper semacam itu untuk lebih lanjut bisa dianalisa secara kuantitatip. Silahkan para rekan yang ahli, pakar dan jamhur di bidang mekanika-fluida, ilmu bahan dan kontruksi automotif untuk mengolah lebih jauh dan memanfaatkannya. Saya cuman bisa berharap khayalan saya tersebut suatu saat bisa benar-benar terwujud, dapat digunakan dan bermanfaat bagi banyak orang.


    Namun, apapun, saya sangat terkesima dengan
    teknologi tepat guna dari desa Pasir Muncang yang saya anggap jenial. Yang pasti si mamang tidak pernah menyadari bahwa teknologinya dapat bermanfaat untuk hal-hal yang lebih besar. Demikian pula dengan Tiara si mahasiswi, dia mungkin tidak menyadari bahwa pertanyaannya ke si mamang tentang daun pisang di tong air akan memberikan kekaguman pada para penontonnya. Bener kata-bijak yang mengatakan bahwa ingenuity is unlimited. Terbayang di lamunan saya Mang Aput yang sederhana itu menjelajah lorong-lorong desanya sambil menjajakan kacang-rebusnya, "Cang kacang ... kacang-rebus, kacang-panas, kacang-anget, kacang-malam .... sacontong sarebu. Caaang kacaaang ..... kacang rebuuus !". Si mamang tidak akan pernah menyadari bahwa crest-damper dari desanya dapat bernilai milyaran rupiah dan juga bisa menyelamatkan banyak nyawa manusia.




    -

    04 September 2009

    Menyeberangi Lautan Menggapai Kemerdekaan


    Bantar Gebang, 8 Januari 2008


    Kemarin petang saya dan pasukan saya menyeberangi Selat Sunda dari Bakauheni ke Merak. Sebelumnya sudah saya baca laporan bahwa ketinggian ombak di Selat Sunda bagian selatan sekitar 2.5 - 3 m, cukup tinggi utk diseberangi. Tetapi di bagian utara mungkin paling tinggi sekitar 1 m yang masih aman untuk pelayaran.  Dari bendera penanda arah-angin bisa dipastikan bahwa kecepatan angin lebih dari 20 knot. Sehingga  ferry memang harus berlayar zig-zag menyesuaikan arah terjangan ombak. Saya rasa sang kapten tidak sempat menikmati musik dangdut kegemarannya karena harus bekerja dengan lebih serius. Dulu saya pernah beberapa kali bergurau dengan ombak yang setinggi 3 m atau kadang lebih dengan perahu nelayan yang panjangnya hanya 10 meteran. Sungguh sebuah kenikmatan advonturir yang sangat mengasyikkan meski sebenarnya tidak perlu dilakukan oleh orang yang cukup waras. Itu dulu sewaktu masih muda, tentu tidak pantas lagi bagi orang yang overseket seperti saat ini.

    Saya sengaja berdiri di anjungan atas menikmati goyangan ombak sambil memandangi cakrawala yang dipenuhi oleh awan CB ( cumulonimbus ) dengan semburat merah sinar matahari yang mulai tenggelam di balik punggung Anak Krakatau yang terus mengepul, sambil merenungi kedahsyatan our mother-nature. Tiba-tiba saja saya teringat pembicaraan saya dengan seorang ibu yang berusia sekitar 65-an tahun sewaktu dalam penerbangan panjang yang amat membosankan dari Detroit ke Narita dua bulan lalu. Ibu tersebut seorang wanita cina yang wajahnya sama sekali tidak menampakkan kekerasan hati. Wajah itu adalah wajah seorang nenek yang sehat, ceria yang penuh dengan optimisme. Sebuah wajah yang sangat happy. Karena kami bersebelahan maka saya coba untuk berbincang-bincang. Eh ternyata dengan senyum dan tawanya yang khas ibu tersebut kemudian banyak bercerita. Demikianlah kisahnya :

    Ibu tersebut adalah seorang wanita cina kelahiran Cina Daratan, saya lupa daerah kelahirannya. Saat ini beliau dan suaminya tinggal di Philadelphia. Sudah  hampir 40 tahun menjadi warga Amerika Serikat. Anak-anaknya meski mengerti bahasa cina tetapi karena besar di Amerika maka tidaklah fasih menggunakan bahasa ayah ibunya. Usaha suaminya sekarang adalah real-estate. Saat itu beliau dan familinya pergi ke Cina untuk menengok sanak-saudaranya, yang masih tinggal disana. Menurut si  ibu paling tidak setahun sekali mereka berkunjung ke tanah leluhurnya. Catatan di atas bukan inti kisah sang nenek tersebut, tetapi ada di kisah berikut ini.

    Sampai umur 20-an selepas SMA ibu tesebut tinggal di suatu desa di Cina Daratan. Kemudian saat penugasan negara untuk semacam bakti sosial atau wajib kerja di sebuah pedesaan dekat atau di sebrangnya Hong Kong, beliau beserta teman-temannya yang kesemuanya wanita mencoba  melarikan diri dengan berjalan kaki selama beberapa hari menuju ke pantai yang paling dekat dengan Hong Kong. Perjalanan dilakukan di waktu malam untuk menghindari polisi. Siang hari mereka sembunyi dan tidur di sawah-sawah. Dengan modal pelampung sederhana mereka mulai menyeberangi selat / teluk menuju Hong Kong yang saat itu masih milik Inggris, untuk mencari kemerdekaan. Saya tanya kenapa harus pergi meninggalkan tanah-airnya ?  Jawab ibu tersebut sangat singkat dan sederhana.  Sambil meringis ringan ibu tersebut menjawab 'Mister, saya tidak suka dengan pemerintah komunis !  Itu saja jawabnya. Agaknya si ibu tidak mau bercerita panjang lebar mengenai hal tersebut. Barangkali saja akan malah membuka dan merobek luka lamanya. 





    Dari sebuah peta di brosur turisme kecil ibu tersebut sepintas menunjukkan lintasan yang mereka sebrangi. Saya sudah lupa persisnya darimana awal keberangkatannya . Yang saya ingat adalah teluk tersebut dan dikatakannya jaraknya sekitar 40 sampai 50 mil ke arah Hong Kong yang merupakan lintasan terdekat untuk menyebrang. Lintasan dipilih dengan menjauhi pantai agar terhindar dari  patroli pantai. Dengan perkiraan kecepatan renang sekitar 1 hingga 2 mil per jam maka mereka memperkirakan sampai di H/K sekitar 2 hari 2 malam. Kenyataannya mereka harus berada di air sekitar 4 hari 4 malam karena  angin, arus dan ombak di perairan yang menghadap Laut Cina Selatan tersebut ternyata sangat besar. Ada yang berani mencoba ?

    Perjalanan menyeberang teluk dan selat mereka perkirakan sekitar 2 hari 2 malam berenang. Asumsinya tentu tidak ada angin, ombak dan arus laut. Ternyata mereka harus menempuh 4 hari 4 malam tanpa makanan. Akhirnya sampai di Hong Kong juga meski 4  dari 6 atau 7 wanita-wanita pemberani tersebut hilang ditelan ombak karena kecapaian. Ini sebenarnya penyeberangannya yang kedua. Yang pertama beberapa bulan sebelumnya ibu tersebut tertangkap polisi pantai, masuk penjara satu bulan kerja paksa. Ada yang beberapa kali tertangkap dan berakhir dengan hukuman tembak mati.

    Dengan kekerasan hati, kebulatan tekad , optimistik yang tinggi dan tentu saja karena keterpaksaan akhirnya mereka memperoleh kemerdekaan yang mereka impikan. Dengan modal kemahirannya berbahasa Jepang, ibu tersebut bertukar ilmu bahasa dengan seorang guru bahasa inggris di kedutaan Amerika di Hong Kong. Hal ini menyebabkan bahasa inggrisnya amat bagus. Selanjutnya ibu itu sekolah keperawatan dan melanjutkan ke Amerika sampai suatu saat ketemu suami seorang arsitek cina yang asli warganegara Amerika. Agaknya suami istri tersebut cukup sukses dengan usahanya dengan membuka sejumlah toko dan real estate. Mereka menjadi keluarga sukses di Amerika.

    Terus terang saat mendengar kisah tersebut saya merinding, haru dan diam-diam terkagum-kagum pada wanita kecil dengan wajah yang samasekali jauh dari kekerasan. Lembut seperti nenek-nenek yang biasa kita temui. Kemauan yang keras, definitip dan optimistik ( atau there were no other choices ).  Menyeberangi lautan untuk meraih kemedekaan. Saya peluk wanita tua yang mungil namun tegar itu untuk menyampaikan rasa hormat saya. Sayangnya, cerobohnya saya, nama dan catatan alamat emailnya ketelisut entah kemana karena waktu sampai di Narita kita semua terburu-buru. Saya harus  pindah pesawat menuju Singapore sedangkan ibu tersebut beserta familinya buru-buru ganti pesawat ke Seoul. Mudah-mudahan suatu saat nanti saya masih berkesempatan berjumpa dengan wanita tua mungil yang amat perkasa tersebut.

    Ada catatan menarik lagi dari ibu tua itu, bahwa ternyata beliau sangat kenal negeri kita Indonesia. Si ibu mengatakan bahwa sewaktu kanak-kanak di sekolah mereka diajari menyanyikan lagu yang berasal dari negeri kita. Saya minta beliau untuk mencoba menyanyikannya  kalau-kalau masih bisa. Si ibu bersemangat sekali dan dengan sungguh-sungguh mencoba mengingat-ingat lagu tersebut.  Berulang-ulang ibu tersebut mencoba menyanyikannya, namun hanya sepotong saja yang masih diingatnya.  Kurang lebih seperti ini yang saya tangkap :  sola sola pakambia  .. na na na na na na na.  Dengan dialek cinanya yang khas dinyanyikannya berulang-ulang tapi beliau bilang sulit mengingat lanjutannya. Bisa dipahami karena sudah sekitar 50-an tahun yang lalu. Setelah saya dengarkan baik-baik akhirnya saya mendapat kepastian bahwa lagu yang dimaksud adalah sorak sorak bergembira, bergembira semua. Kemudian saya menyanyikan lagu tersebut secara lengkap untuk beliau. Tampak beliaunya senang sekali.  Saya beritahukan kemudian bahwa lagu tersebut adalah luapan kegembiraan bangsa kami, orang-tua kami sewaktu bangsa kami berhasil merebut kemerdekaan dari penjajahan belanda. Saya lihat matanya berbinar begitu saya berulang kali menyebut kata freedom. Bisa dimaklumi mengingat kemerdekaan adalah inti hidup si nenek mungil tadi.
    ---
    Penyeberangan kami di Selat Sunda kemarin sore sesungguhnya nyaman-nyaman saja bagi saya. Namun  situasi tersebut telah mengingatkan saya pada pengalaman hidup seseorang yang menurut ukuran saya terlampau keras dan berat. Kami kemarin pulang menyeberang Selat Sunda dengan sedikit kekecewaan pada hasil pencapaian kerja selama dua minggu meski kami telah cukup keras berupaya. Akan tetapi sesungguhnya hal itu tidak ada artinya samasekali bila dibanding dengan perjuangan yang telah dilakukan ibu tersebut dalam upaya meraih kemerdekaan, seperti pula tidak ada artinya samasekali  bila  dibandingkan dengan perjuangan orang-tua kita semua saat berjuang merebut kemerdekaan dari cengkeraman penjajahan. Sesulit apapun, hidup memang harus selalu tegar dan optimis. Selamat bekerja.






    // Tulisan ini dirilis pertama kali di milis alumni itb74 dengan nomor message #19111
    // Telah diedit seperlunya tanpa merubah isinya.

    // Dimuat juga di Kompasiana




    -

    Water World ( part 1 )

    Sungkup Pelindung Sambungan Kabel Taman Anda

    Anda pasti ingat saat The Mariner membawa Helen ke kedalaman laut untuk meyakinkannya bahwa the Dryland telah lama basah terendam air dalam filem Waterworld ( Universal Studio - 1995). Karena tidak memiliki insang sebagaimana the Mariner yang merupakan Ichtyus Sapien yang sebangsa mutan ikan, maka Helen ditempatkan dalam sebuah diving-bell atau sungkup kedap air dari plastik tembus pandang agar masih bisa bernapas sebagai manusia biasa. Meski agak berlebihan, bagian ini adalah salah satu bagian yang saya sukai dari filem yang entah kenapa menerima banyak kritik negatip tersebut.


    Kevin Costner - Jeanna Tripplebout - Tina Majorino
    ( the Mariner - Helen - Enola )
    Waterworld - Universal Studio - 1995

    Menurut catatan di Wikipedia ( http://en.wikipedia.org/wiki/Diving_bell ) diving-bell secara konsep ternyata sudah didiskripsikan oleh Aristoteles pada 4 abad sebelum Masehi. Banyak diyakini bahwa perangkat sungkup kedap air moderen baru dibuat dan digunakan pada pertengahan abad ke 16 (1535) oleh Guglielmo de Lorena . Entah siapa dia, mungkin juga nenek-moyang pemilik bis Lorena yang legendaris di jalan-jalan di Jawa Barat itu.


    Alexander Agung dalam Sungkup Kaca
    ( Islamic Painting abad 16 - sumber Wikipedia )

    Sejak pertama kali melihat gambar sungkup kedap air saya memang terkagum-kagum pada wahana yang memungkinkan orang bekerja di bawah permukaan air tersebut. Perkenalan pertama saya pada gambar perangkat ini terjadi pada saat saya mulai senang membuka-buka buku, meski baru bisa mengenal gambarnya. Buku yang memuat gambar sungkup-air adalah buku Natuurkunde ( kitab ilmu alam ??? ) milik almarhum ayah saya. Selalu asyik menanyakan pada ayah tentang gambar ini dan itu yang termuat dalam buku tersebut. Dari pelbagai gambar yang ada, maka taucherglocke (diving-bell) menjadi salah satu gambar favorit saya. Sayang buku tersebut tersimpan di rumah saya di Solo sana sehingga saya tidak bisa menyalinnya untuk saya sajikan di sini. Namun kurang lebih gambar yang ada di buku tersebut mirip seperti gambar berikut :



    Kekaguman saya terhadap sungkup inilah yang membawa saya pada ide-ide penggunaan sungkup kedap air untuk keperluan praktis lainnya di luar untuk perlindungan pekerjaan di dalam laut. Sebagian dari ide telah saya coba dan gunakan dan sebagian ide lainnya hanya sampai pada mereka-reka saja tanpa pernah mencobanya. Hal tersebut dikarenakan pekerjaan saya tidak berkaitan di samping karena skalanya di luar kemampuan saya. Guyonnya seperti ini, saya tidak mau rame olehe nyoba njur sapa sing beya ( sibuk mencoba lalu siapa yang kasih beaya ).


    Pada saat SMA, untuk bisa memiliki uang saku terkadang saya jadi tukang instalasi listrik atau lebih tepatnya tukang memperbaiki instalasi listrik untuk rumah-rumah beberapa kenalan dan keluarga teman-teman saya. Walau berkelas amatiran karena memang tidak memiliki sertifikat instalatur listrik dari PLN, namun tentu pekerjaan tersebut tidak saya lakukan asal-asalan. Kebetulan pula pada saat itu pengetahuan saya tentang listrik pada level instalatur cukup memadai dan tidaklah memalukan atau ngisin-isini.

    Salah satu instalasi yang sering saya lakukan adalah perbaikan atau pemasangan lampu taman. Persoalan umum pada instalasi lampu taman adalah sering terpaksa harus menyambung kabel tanah. Meski hal ini tampak sepele bagi yang biasa menginstalasi listrik atau yang tahu soal listrik tapi saya sangat sering menjumpai kecerobohan atau kasarnya ketidak-pedulian dalam mengamankan sambungan di dalam tanah, bahkan oleh orang yang secara resmi bersertifikat instalatur. Seringkali saya jumpai sambungan kabel yang hanya di-isolasi secukupnya dan paling banter ditambah bungkus plastik lalu ditimbun tanah begitu saja. Pada jaman itu tentu konektor atau isolator kedap air yang khusus untuk sambungan kabel bawah tanah tidaklah mudah didapat atau bahkan tidak ada di daerah saya. Saat musim kering tentu tidak begitu masalah, meski harus diingat bahwa taman itu temannya air, jadi perlu secara rutin disiram. Nah persoalan serius terjadi pada saat musim hujan. Mudah dipahami bahwa air akan merembes pada sambungan yang tidak benar-benar rapat. Akibatnya, paling ringan lampu kedap-kedip atau tidak begitu terang ( bhs jawanya mbleret ). Kemungkinan lain yang bisa terjadi adalah kortsleuting ( = short-circuited, hubungan-singkat, hubungan-pendek atau ada yang menyebut kongslet ) yang mengakibatkan begrenser-nya jatuh atau dalam bahasa jawa disebut njeglek ( begrenser itu kalau sekarang kwh-meter + mcb). Yang lebih fatal, dan ini beberapa kali terjadi, ada orang menggelepar kesetrum saat melintas di genangan air di sekitar sambungan yang nekat dan ceroboh tersebut. Di jaman sekarang di kota-kota besar relatip mudah diperoleh alat atau perangkat untuk melindungi sambungan kabel yang ditanam di tanah. Namun pada jaman itu, atau barangkali juga hingga saat ini di kota kecil atau di daerah pedesaan tentu tidak akan diperoleh perangkat semacam itu.

    Untuk mengatasi kesulitan tersebut sebenarnya caranya teramat mudah, murah dan yang paling utama andal. Cara tersebut menggunakan konsep sungkup kedap udara yang ditemukan Aristoteles di abad ke-empat sebelum masehi. Yang kita perlukan hanyalah sebuah botol-beling yang cukup tebal, misalnya botol obat-obatan. Untuk saat ini barangkali botol yang mudah di dapat adalah botol minuman yang berikut isinya hanya 1500 sampai 2000 perak saja. Jangan gunakan botol yang terbuat dari plastik karena suatu saat akan retak terkena panas dan menerima tekanan geser tanah. Untuk mempermudahnya, silahkan lihat sketsa di bawah ini :



    Untuk meningkatkan ke-andal-an :
    1. Mengolesi dinding bagian dalam botol dengan oli, ter, atau vaselin dan menutup secukupnya mulut botol dengan gumpalan plastik yang sudah diolesi dengan oli atau ter. Tujuannya sederhana saja yaitu untuk agar botol tidak digunakan oleh semut, kelabang atau binatang-binatang kecil lain sebagai ruang tinggal yang nyaman dan hangat.
    2. Menutup mulut botol dengan gumpalan plastik atau material lain serapat mungkin juga untuk memperkecil kemungkinan pengumpulan uap air di dalam tabung. Bungkusan kecil silica-gel dapat diletakkan dalam botol untuk mengurangi uap air.

    Yang sebenarnya tidak perlu saya tulis, tapi bolehlah saya ingatkan adalah :
    1. Sambungan kabel tetap harus diisolasi dan diatur sedemikan rupa sehingga tegangan api (hot) dan netral tidak bersentuhan.
    2. Atur agar kawat terbuka ( sambungan ) di dalam botol cukup tinggi dan tidak terlalu dekat dengan mulut botol agar kemungkinan kapilerisasi tidak menyentuk sambungan.
    3. Atur agar jarak antara kabel api dan netral tidak berdekatan atau bersinggungan agar tidak berlangsung peristiwa kapilerisasi yang dapat menyebabkan air merambat ke atas menyentuh sambungan kedua kabel.
    4. Perlu diingat bahwa botol hanya berfungsi untuk melindungi dari terendamnya sambungan listrik dari genangan air.

    Cara murah ini benar-benar andal. Taman boleh basah sebasah-basahnya, hujan boleh turun sederas-derasnya atau banjir boleh menggenang sesuka-sukanya, selama botol tidak retak dan botol terisi udara dijamin sambungan listrik taman ( atau bahkan kolam ) anda tidak akan bocor dan nyetrum.

    Terutama bagi sahabat-sahabat yang tidak biasa dengan listrik, perhatikan baik-baik apabila anda menyuruh orang menyambung kabel untuk ditanam di tanah atau di air. Kalau tidak menggunakan cara yang memadai, berkenanlah memberi tahu cara ini agar listrik anda aman bagi anda dan keluarga anda, di samping agar orang tersebut tidak melakukan kecerobohan pada pekerjaan-pekerjaan berikutnya. Semoga catatan sederhana ini dapat menghindarkan kecelakaan tersengat listrik yang tidak perlu terjadi akibat terendamnya sambungan listrik bawah tanah . Semboyan-nya :

    --- apapun kabelnya botol-beling sungkupnya ---



    ---

    19 August 2009

    Ngepotpun Bisa Untuk Ungkapkan Terimakasih.

    Sobat,


    Beberapa hari lalu, pas kami bertetangga sedang santai ngobrol ngalor-ngidul tentang kemerdekaan, seorang anak tetangga yang berumur 5 tahunan nyamperin bapaknya utk memperbaiki rem sepeda-kecilnya yang tidak pakem. Rem yang pakem penting bagi mereka utk bisa ngepot atau berbalik arah hanya dengan ngerem roda depan. Karena bapaknya termasuk orang yang tidak handy maka dijanjikannyalah oleh bapaknya besok pagi akan dibawa ke bengkel sepeda. Ok semuanya tampak baik-baik saja, pergilah si anak melanjutkan permainan bersepedanya dengan anak-anak yang lain.

    Namun beberapa saat kemudian anak itu kembali datang ke bapaknya dengan mimik mau menangis. Agaknya dia sedih karena tidak bisa ikut kegembiraan teman-temannya bermain kepot-kepotan yang memang mengasyikkan itu. Si anak dengan nada yang sangat berharap agar saat itu juga rem sepedanya bisa diperbaiki. Sayang hari sudah cukup sore, bengkel sepeda pasti sudah tutup. Bapaknya juga tampak galau kaena tidak bisa juga memperbaiki sendiri.

    Well, baiklah saya ambil alih perkara. Saya suruh anak itu ke rumah saya. "Bilang pada mama untuk ngambilin tang, obeng dan oli singer ". ( Anak-anak tetangga saya hampir semuanya dekat dengan istri saya dan selalu memanggilnya sebagai mama ). Si anak berlari kecil ke rumah saya dan mengambil alat yang saya pesan. Beberapa saat kemudian rem sepedanya saya utak-atik sebentar dan saya minyaki. Semuanya lancar dan sesuai dengan yang diharapkan. Si anak segera kembali ceria dan langsung melesat bergabung dengan teman-temannya untuk bermain kepot-kepotan kembali. Si ayah tentu juga menjadi lega. Sayapun tentu ikut lega pula. Sore itu obrolan tentang kemerdekaan di antara orang-orang tua kembali berlanjut.

    Hari-hari berlalu seperti biasanya. Beberapa hari kemudian saat saya sedang santai sore hari dan duduk-duduk di pos ronda di gang kami, tiba-tiba ada sepeda kecil melintas di depan pos ronda - mengerem keras dan mengepot. Saya tengok ternyata si pengendara adalah si anak yang beberapa hari lalu rem-sepedanya saya perbaiki. Tanpa sepatah kata si anak sedikit melirik kepada saya sambil tersenyum kecil,  senyum anak-anak yang  polos. Agaknya si anak ingin memberi tahu saya bahwa rem-sepedanya masih tetap oke. Saya segera menyadari bahwa demonstrasi, lirikan dan senyum kecil tersebut adalah sebuah ungkapan terima kasih. Sore yang indah itu saya merasa sedang mendapatkan hadiah surgawi yang amat mengharukan.



    Besok pagi kita akan merayakan Peringatan Proklamasi Kemerdekaan negeri kita. Sejak awal bulan kita sudah pasang bendera dan menghiasi gang-gang dan rumah kita dengan lampu atau kertas merah-putih yang ceria. Meski ekonomi saat ini sedang susah, keceriaan kemerdekaan masih dengan mudah dijumpai di segenap pelosok negeri. Kalau mau direnung-renungkan secara mendalam sebenarnya keceriaan tersebut adalah ungkapan terima-kasih dengan diperolehnya kemerdekaan, diperolehnya kebangsaan, diperolehnya nasionalisme. Semoga kemerdekaan ini selalu menjadi milik semua warga negara. Semoga tidak akan ada perpecahan dan pertikaian. Semoga semua warga saling menyadari untuk tidak saling merampas kemerdekaan warga lainnya dengan memaksakan kehendak, paham dan seleranya sendiri-sendiri.

    Selamat berbahagia. Profisiat 17 Agustus 2006.

    // ia-itb74, 16 Agustus 2006 , message number  #16319
    -

    17 August 2009

    De Oppresso Liber


    Membebaskan Yang Tertindas


    Sobat,

    Di tengah kegalauan dan was-wasnya hati dan logika menghadapi situasi perekonomian, pagi ini saya memperoleh sukacita meskipun kecil  saja. Walau demikian hal tersebut  saya rasakan sebagai berkah yang khusus diperuntukkan  bagi saya pagi ini. Ijinkanlah saya berbagi kisah tersebut di sini, kisah sederhana yang mungkin tidak cukup berarti.




    Sejak kemarin sore, di atap kaca rumah terdengar berisik tak tek tok tak tek tok. Kami amati ternyata ada seekor tawon yang terjebak di dalam rumah dan kesulitan menemukan jalan keluar. Saya bergumam, 'Ah nanti kan dia ketemu jalan keluarnya sendiri, sengaja atau tidak sengaja'. Tetapi sampai pagi tadi ternyata si tawon belum juga beruntung karena tentunya tidak cukup cerdas membedakan udara terbuka dan kaca.

    'Okelah tawon, mari kutolong kau', demikian keputusan hati saya pagi ini. Saya ambil tangga dan handuk, dan saya raih atau saya jebak si tawon agar menempel pada handuk dan tidak menyengat tangan. Terus saya bawa keluar agar terbang di udara bebas. Mungkin saja ada anak-anaknya yang menunggu diberi makan atau teman-teman sekoloninya yang menunggu kedatangannya. Selamat jalan tawon, terbanglah dan temuilah anak-anak dan saudara-saudarimu.





    Ada kelegaan luar biasa di hati. Kelegaan semacam ini pernah saya alami sewaktu masih di kampus. Sore hari sewaktu pulang dari sekretariat KDD ( keluarga donor darah ) dimana saat itu saya masih menjabat sebagai pangcu-nya, pada saat melintas di depan Perpustakaan Pusat (saat itu) terdengar cicitan menyayat dari seekor burung, cicitan penderitaan atau mungkin cicitan meminta pertolongan. Ternyata ada seekor burung gereja yang kakinya terjerat benang layang-layang yang membentang antara puncak pohon di depan Departemen Seni Rupa dan tanduk atap Perpustakaan Pusat. Agaknya dia salah pilih pijakan saat mau beristirahat. Satu kakinya terjerat dan dia tidak mampu  melepaskan diri, sehingga si burung menggantung, menggelepar dan mencicit pilu. Segera saya cari sesuatu yang bisa digunakan untuk memutus benang tersebut. Ada sepotong ranting kayu sepanjang 30 - 50 cm tergeletak di tanah. Saya ambil dan lemparkan ke tali. Tampaknya alam sedang bersekutu dengan saya dan saya sedang diberkati dengan ketepatan lempar yang begitu presisi. Walau cukup tinggi, sekali lempar kena, terputuslah tali layangan tersebut dan terbebaslah burung gereja yang malang dari jeratan tali layangan. Terbang, mencicit riang dan mungkin pulang untuk berkumpul kembali dengan anak-anak atau sanak-saudaranya yang mungkin cemas menunggu.. Dalam hati saya tertawa kecil, mereka-reka mungkin saja si burung bilang, 'tarenkyu pisan atas pertolongan akang!'.  Sebenarnya saya sendiri terkejut, kok bisa-bisanya kena padahal letak tali tersebut cukup tinggi. Sejenak saya merasa memiliki kepiawaian yang mirip dengan Agung Sedayu dalam hal ilmu melempar seperti yang dikisahkan oleh SH Mintarja dalam serialnya yang legendaris Api Di Bukit Menoreh. Meski saat ini saya belum mampu membantu kesulitan orang lain, upaya saya pagi ini meski tidak begitu berarti, namun benar-benar telah memberi kelegaan yang luar biasa. Lagi-lagi bagi saya, hal ini semacam hadiah surgawi yang memang khusus diperuntukkan bagi saya pagi ini.


    Kemudian saya teringat semboyan suci klasik yang kemudian digunakan atau terkadang di-salahguna-kan oleh sekelompok oknum militer, de oppresso liber, to liberate the oppressed,  membebaskan yang tertindas, membebaskan yang sedang mengalami kesulitan. Saya hanya mampu merenung andai saja saya dapat berbuat lebih banyak dan lebih nyata bagi orang lain yang lebih sulit dari saya. Walaaah baru sampai di angan-angan saja.


    // Pernah saya muat di milis ia-itb74 dengan nomor message #21823
    // Telah diedit seperlunya tanpa merubah maknanya.




    -

    Dilarang Menembak Burung Rektor

    Bantar Gebang, 27 Juli 2009


    Jikalau Anda pernah bertamasya ke kota Bandung dan pernah membawa putra-putri anda naik kuda di sekitar kebun-binatang Tamansari  dan di sekitar kampus ITB, barangkali anda pernah membaca tanda-larangan di lapangan depan kampus ITB sebelah barat yang terkenal sebagai lapangan Aula Barat, yang tertulis seperti ini :

    DILARANG
    MENEMBAK BURUNG
    REKTOR

    Sayang sekali saya tidak memiliki fotonya. Terakhir memperhatikannya kira-kira sekitar tiga puluh tahunan lalu. Saat itu barangkali Pak KK kita yang eks rektor ITB itu masih sebagai mahasiswa yang berambut gondrong atau di masa-masa terakhirnya sebagai mahasiswa di kampus tersebut. Tentu saja yang dimaksud bukan menembak burungnya pak rektor ITB - wah bu rektor bisa ngamuk entar. Yang dimaksud tentunya adalah pelarangan mengganggu apalagi menembak burung-burung tekukur (balam, derkuku ), perkutut, burung gereja dan burung-burung lainnya yang memang dibiarkan bebas bercengkerama merdeka di seantero kampus ITB dan sekitarnya.


    Menurut saya larangan tersebut merupakan sebuah ajakan yang simpatik dan sebuah ekspresi tegas dalam ikut menjaga kelestarian lingkungan, sekaligus ekspresi menghormati dan menghargai hak hidup dan kebebasan ciptaan lainnya. Saya tidak tahu apakah saat ini papan pengumuman tersebut masih tertancap di lapangan tersebut atau sudah hilang. Semoga saja tetap dipertahankan oleh otorita kampus ITB. Semoga saja ada sebuah KepRek ( Keputusan Rektor )  untuk tetap melindungi kebebasan makhluk-makhluk cantik tersebut. Dan semoga saja kampus-kampus lain yang di halamannya memiliki burung-burung liar juga ikut memasang larangan semacam itu.

    Beberapa tahun terakhir sering saya jumpai dan saya yakin Anda-anda sekalian juga pernah menjumpai di sekolah-sekolah khususnya di sekolah dasar, ada pedagang burung yang menjual burung-burung  kepada anak-anak, sekedar untuk mainan. Sayangnya burung-burung yang dijual bukanlah burung yang memang untuk dipelihara. Burung-burung tersebut adalah burung pipit liar yang diberi cat-air berwarna-warni yang dimasukkan dalam sangkar kecil yang lucu.  Di mata anak-anak tentu hal ini memang menarik. Acapkali di rumah mereka, burung-burung tersebut diikat dengan seutas benang dan diterbangkan selayaknya layang-layang.

    Bagi anak-anak mainan ini memang bisa menggembirakan. Bagi orang-tua juga akan memberi kebahagiaan karena anak-anaknya bergembira. Bagi si pedagang adalah penghasilan untuk sanak-keluarganya. Dilemanya, bagi si burung ini adalah bencana dan penyiksaan yang luar biasa, karena pada umumnya mereka akan mati setelah kecapaian ditarik-diulur atau terlalu sering dipegang-pegang oleh anak-anak. Seandainya tidak mati saat dipermainkan, sangat sering burung-burung tersebut kelaparan dan kehausan dalam sangkar karena si anak sudah lupa dengan permainannya atau memang karena burung-burung mungil yang cantik tersebut stress karena tidak terbiasa terkurung dan hidup menyendiri, jauh terpisah dari keluarga dan kelompoknya.

    Sepintas hal ini kasus yang sederhana saja. Kalaupun dibiarkan juga tidak akan terjadi hal-hal yang luar biasa. Namun kalaupun direnungkan agak mendalam sebenarnya tanpa disadari kita telah memberi nuansa pendidikan yang sangat buruk. Anak-anak tanpa disadarinya akan menganggap hal semacam itu sebagai hal yang biasa, bukan sebagai sebuah penyiksaan, bukan suatu hal yang berlawanan dengan asas menghormati hak hidup makhluk lainnya. Tanpa disadari anak-anak menangkap pengertian bahwa hal tersebut tidak salah. Dampaknya ke depan, di hari-hari mereka menjadi dewasa tentu akan mempunyai warna yang dilatari pengalaman masa kecilnya tersebut.

    Lalu apakah hal tersebut masih akan kita biarkan saja ? Tegakah kita sebagai orang-tua membekali anak-anak atau cucu-cucu kita dengan pengalaman jiwa yang kelam seperti itu ? Masihkah Anda akan membelikan putra-putri anda yang manis-manis dengan mainan yang keji semacam itu ? Adakah sekolah, para guru dan para kepala-sekolah membiarkan anak-didiknya yang belia, lugu dan masih jernih dengan hiburan kejam semacam itu ? Saya yakin Anda-anda mempunyai jawaban yang bijaksana.
    Telah dimuat juga di Kompasiana.

    16 August 2009

    Kanthong Wewe


    Penyelamat Barang dari Genangan Air dan Banjir

    Bantar Gebang, 15 Agustus 2009 
    Telah dimuat di http://ia-itb.blogspot.com/

    "Ngapa le, mripatmu kok abang, mau bengi ora turu ya ?", begitulah pertanyaan saya pada seorang sopir kolega saya ketika saya ketemu dia di tempat parkir sekitar awal tahun ini.

    "Anu Pak, tadi jam 4 pagi saya ditelepon bapak untuk segera datang menyelamatkan mobilnya. Banjir Pak, takut seperti dulu nggak sempat mindahin ke tempat yang aman, kerendem air, elektroniknya pada rusak", begitulah kira-kira jawaban Mister Mairin sopir teman saya tadi.


    Apapun mobil anda baik itu dari kelas 30-jutaan ataupun yang berkelas 3-milyaran, kalau sudah terendam air apa lagi hingga waktu yang cukup lama ya tentu akan rusak.  Kabin mobil tidak dirancang 100% watertight alias kedap air. Terendam air dalam tempo yang agak lama akan mengakibatkan air meresap ke dalam kabin. Akibatnya jelas, interior mobil anda akan rusak atau paling tidak berbau busuk. Ujung-ujungnya anda harus membersihkan, dan mengeringkan dalam beberapa hari. Bahkan lebih sering anda terpaksa harus mengganti secara total.

     

    Selain karpet dan jok, perangkat lainnya yang bakal rusak adalah perangkat-perangkat elektronik. Yang pasti, sound processor, audio amplifier beserta stuff-nya dan perangkat video anda harus diganti bila telah terendam air . Tapi itu belum seberapa. Umumnya mobil sekarang sudah electronically controlled atau kerennya computer-controlled atau drive by wire tergantung yang bikin iklan. Meski perangkat kontrol elektronik ini oleh pabriknya sudah semaksimal mungkin dilindungi dari cipratan air maupun kelembaban udara, tapi kalau kerendam air dalam waktu lama ( ternyata ) ya tetap rembes juga, meskipun dalam iklan diberitakan spesifikasi proteksinya sekitar IP66 atau mungkin IP67. Perangkat kendali elektronik mobil memang tidak dirancang dengan proteksi IP69 yang totally water-proof dan hermetically shielded karena mobil-mobil anda memang bukan mobilnya James Bond yang di darat oke di dalam lautpun juga oke.
     

    Perangkat elektronik kendali mobil umumnya tidak murah. Dan pada saat terjadi bencana banjir ternyata orang yang memerlukannya juga banyak karena yang terkena bencana juga banyak. Sehingga bukanlah tidak mungkin anda harus menunggu selesainya perbaikan hingga beberapa hari atau beberapa minggu.  Ajaibnya dunia bisnis, walau  hal ini musibah bagi anda, tetapi akan menjadi rezeki bagi pemilik pabrik, pemilik bengkel dan para pekerjanya, termasuk juga rezeki / musibah bagi perusahaan asuransi. Yang pasti akan menjadi berkah yang nikmat bagi para pemulung dan pengumpul barang bekas. Adil bukan?
     

    Saya sendiri belum pernah mengalami musibah banjir semacam itu karena kebetulan rumah saya masih berada di area yang masih bebas banjir. Entah 5 atau 10 tahun mendatang. Semoga saja tidak akan pernah. Kalaupun nanti jadi langganan banjir ya pindah saja, kenapa repot-repot.Walau demikian saya selalu sangat prihatin melihat korban bencana banjir. Keprihatinan ini ternyata memberi saya kesempatan ber-ide-ria yang meski sangat sepele tetapi saya yakin akan bermanfaat bagi khalayak ramai, baik yang kaya dan terlebih bagi yang tidak cukup kaya. Uraian ide ini saya contohkan untuk perlindungan mobil. Walaupun demikian ide ini dapat bermanfaat pula untuk melindungi barang-barang anda dari genangan air pada saat banjir seperti misalnya furnitur dan perangkat-perangkat elektronik rumah-tangga anda.
     

    Sebetulnya ide ini sudah agak lama tersimpan di direktori SEUD di komputer saya ( SEUD : Sak Enake Udele Dhewe ). Hanya waktu itu saya berpikir hal ini terlalu sederhana dan atau sudah dilakukan orang lain. Saya sudah mencoba melacak di internet namun ternyata belum saya jumpai ide yang semacam ini. Termasuk sudah saya lacak di biro paten Amerika ( US Patent Office ), patent claim untuk hal semacam ini belum juga saya temukan. Saya belum pernah melacak paten-paten dari Eropa maupun negara lain termasuk yang ada di Indonesia. Ya mudah-mudahan saja belum ada yang mempatenkannya. Saya berharap demikian. Tolong infokan bila memang sudah ada yang mem-paten-kannya. Bila memang benar-benar belum ada yang melakukan first filing, mengingat paten itu antara lain berasaskan siapa yang pertama mempublikasi dan filing, maka saat ini juga jadilah first filing / publication dari ide ini. Kalaupun memang belum ada biarlah ide ini jadi milik publik saja. Silahkan siapa saja yang akan memanfaatkan dan memproduksinya. Totally free, no fee no royalty. (But no problems at all bila anda berkeinginan berbagi rezeki .... ha ha ha ha ha ha ! [ minjem ketawanya mendiang Mbah Surip boleh dong ! ] ).
     

    Ide atau solusi ini saya sebut sebagai Kanthong Wewe yang disingkat sebagai K/W ( boleh dibaca sebagai ka-we maupun kee dabel yu ). Tidak ada maksud khusus yang menyangkut makhluk halus yang bernama wewe, tidak ada kaitannya sama-sekali dengan Wewe von Gombell di kota Semarang sana ataupun Wewe Waringin Growong yang sering dikisahkan oleh almarhum nenek saya. Saya juga tidak kenal dengan satu wewe-pun milik paranormal yang kini kian bertebaran saja di Nusantara. Jadi janganlah terlintas di pikiran anda bahwa ide ini datang dari para wewe. Tidak ada sedikitpun persekutuan saya dengan makhluk halus. Nama ini saya pilih agar mudah mengingatnya saja. Sokur bage kalau nantinya menjadi trade-mark.
     

    Teknologi Tepat Guna memang kadangkala berangkat dari hal-hal yang remeh-temeh dan sederhana, tergantung kejelian mata dan kenakalan pikiran kita. Pada dasarnya K/W adalah kantong yang biasa kita gunakan sehari-hari, sebuah kantong dari bahan yang kedap air. Bila anda punya kantong plastik yang tidak bocor maka semua barang yang dimasukkan ke dalamnya pasti tidak akan terkena air meski anda rendam dalam kolam.
     

    Maaf, meski terlambat saya menyajikannya tetapi semoga tetap bermanfaat. Saya juga berharap ide ini dapat dimanfaatkan sahabat-sahabat yang berminat dan berkehendak membantu saudara-saudara kita dengan menyediakan tambahan lapangan kerja, baik di dalam pembuatannya maupun pemasarannya. Mumpung musim hujan masih beberapa bulan lagi, dapatlah awal-awal kita siapkan si kanthong-wewe. Sedialah K/W sebelum banjir karena di jaman sekarang sedia payung tidaklah cukup lagi. Harapan saya sederhana saja, semoga saya bisa ikut mengurangi kesusahan sahabat-sahabat yang memang selalu kejatahan banjir di puncak musim hujan.


    Rancangan ini mustinya ada beberapa kekurangan yang terlewatkan oleh mata saya dan keterbatasan pengetahuan dan kreatifitas saya. Silahkan memperkaya ide ini agar akhirnya benar-benar andal dan bermanfaat bagi kita semua. Paparan gagasan saya tersebut saya tuangkan sebagai gambar berikut ini.



    Gambar 1 :

    Gambar 2 :

    Gambar 3 :

    Gambar 4 :

    Gambar 5 :


    Catatan Kontruksi :



    ( Silahkan mengkoreksi dan memperkayanya agar semakin sempurna .)
    1. Bahan K/W dapat dibuat dari plastik, terpal, kain parasut, nylon maupun dari bahan yang lumayan haitek semacam kevlar atau serat karbon.
    2. Penyambungan dapat dilakukan dengan pengeleman dan jahit atau dengan metode yang lebih haitek semacam ultrasonic plastic welding.
    3. Untuk kontruksi yang self-forming ( = yang tanpa menggunakan tire-pocket ) - mengingat K/W bagian bawah haruslah menempel ke badan mobil atau bagian bawah mobil, maka ukuran kantong jangan dibuat pas, haruslah dibuat lebih. Kedodoran sedikit tidak mengapa ( wong bukan celana saja kok. ) Upaya ini untuk mengurangi gaya Archimedes akibat air yang terpindahkan di samping untuk mengurangi stress yang tinggi pada kantong bagian bawah saat memperoleh gaya angkat air. Kalau terlalu ketat maka seperti halnya celana, saat kita jongkok bisa-bisa mak wekkk regedeg brekkk ..... sobeklah dia !
    4. Mengingat bagian bawah mobil, terutama di daerah mesin ada beberapa ujung yang menonjol, agak runcing dan mungkin tajam maka agar K/W tidak bocor atau sobek saat tertekan air seharusnyalah bagian dasar K/W dibuat lebih kuat dengan pelbagai upaya seni keinsinyuran yang anda-anda miliki. Misalnya saja bagian dasar dibuat dengan lapisan yang lebih tebal. Atau dapat pula dipasangi papan tripleks, baik itu sudah terintegrasi dengan K/W maupun yang modular. Atau cara lain yang tepat guna(nya). Ingatlah, bahwa tekanan hidrostatis (plus dinamis kalau airnya goyang-goyang ) bisa cukup besar.
    5. Kanthong-Wewe ini hanya untuk melindungi mobil yang rendaman airnya tidak terlalu tinggi. Kalau genangan air terlalu tinggi, misalnya hingga lebih dari 1 meter, mengingat mobil anda beratnya tidak akan lebih dari 3 ton, maka mobil dalam K/W akan menjadi seperti kantong apung atau bahkan seperti perahu. Bila memang terjadi seperti itu, maka sekali lagi dengan seni keinsinyuran anda, perlu anda cari metoda anchoring ( pen-jangkar-an ) dan perlindungan ekstra yang sesuai dan tepat. Kalau tidak maka mobil anda akan pontang-panting kesana kemari nabrak dinding atau bangunan rumah lainnya. Atau kalau mobil anda terparkir di jalan raya, bisa jadi mobil anda akan berlayar kesana kemari dan mungkin malah masuk garasi tetangga atau bahkan terbawa hingga pasar mobil bekas. Untuk kasus semacam itu barangkali saja atau ada baiknya kita mengintip cara-cara yang digunakan untuk menambat perahu, yaitu dengan tali dan memasang ban pelindung pada sisi-sisi mobil agar tidak rusak karena terbentur-bentur.

    Selamat berkolaborasi dengan wewe. Eh maaf, selamat menggunakan kanthong-wewe. Motonya : 
     

    --- apapun mobilnya kanthong-wewe pelindungnya ---







    Taman Layang

    Taman Evakuasi Banjir
    Ide ini sebenarnya sudah sangat lama berada di direktori Sak Enake Udele Dhewe di komputer saya yang merupakan kumpulan ide-ide yang kadang tidak umum atau di luar bidang profesi  / disiplin keilmuan yang saya tekuni. Sebagaimana ide-ide lainnya, ide adalah sesuatu pemikiran yang dengan pelbagai alasan belum pernah dicoba. Namun saya berharap bahwa dengan ide ini dapat ikut menyelesaikan atau paling tidak memberi masukan penyelesaian suatu permasalahan. Lebih lanjut dengan suatu ide diharapkan mendorong munculnya ide-ide baru yang lebih kreatif, progresif, realistis dan dapat dimanfaatkan.
     
    Gagasan yang akan saya kemukakan di sini menyangkut soal banjir di kota-kota besar seperti misalnya Jakarta, yang boleh dikatakan selalu pasti datangnya dan selalu pastinya penderitaan yang diakibatkan. Sejauh ini rumah saya yang tidak jauh dari TPA Bantar Gebang yang legendaris itu tidak pernah kebanjiran. Mudah-mudahan tidak akan pernah mengalami.



    Seperti telah kita saksikan bersama atau bahkan mungkin beberapa sahabat disini mengalaminya, setiap musim hujan mencapai puncaknya maka sejumlah warga DKI telah mempersiapkan keluarganya mengungsi. Dan bisa dipastikan hal semacam itu sangat merepotkan, baik  emosi, tenaga maupun uang. Tentu yang saya maksud hal itu terjadi pada warga  kelas susah, yang tidak  mungkin berkesempatan mengungsi ke hotel. Seperti biasanya,  mereka pada umumnya sudah punya tujuan pengungsian langganan,  entah di sekolahan, masjid, pinggiran rel atau bahkan jalan layang. Tempat-tempat tersebut ada satu dua yang memang cukup nyaman untuk mengungsi, tetapi kebanyakan tentu sangat tidak memadai. Mereka umumnya akan mengungsi ke tempat yang tidak kebanjiran saja, tanpa ada pertimbangan terhadap permasalahan yang bakal dihadapi. Permasalahan yang dihadapi cukup kompleks, mulai dari tempat mengungsi yang aman dan memadai, persoalan kesehatan anak-anak / balita dan kesehatan keluarganya hingga dampak-dampak sosial yang akan muncul.

    Kemudian terpikir kenapa tidak dibangun saja fasilitas pengungsian di sejumlah tempat yang potensi banjir, terutama di daerah yang padat penduduk ? Lalu saya corat-coret, jadilah sketsa yang tidak bertanggung jawab, maksud saya sketsa dari orang yang bukan pada bidang keahliannnya. Sebut saja ide tadi sebagaiTaman Layang ( bukan Taman Lawang lho ) karena  memang melayang di atas tanah, semacam jalan layanglah. Saya sertakan sketsa ide tersebut dalam gambar di bawah. Jangan mengkritisi soal teknisnya, karena memang bukan keahlian khusus saya.


    Taman layang intinya adalah sebuah tempat permanen untuk evakuasi saat datang bencana banjir. Tempat tersebut berupa platform beton dengan tiang penyangga semacam jalan layang. Luas platform barangkali sekitar 200 hingga 500 meter-persegi atau disesuaikan dengan kondisi setempat. Pada platform harus sudah disiapkan fasilitas untuk mendirikan tenda ( misal pole-holes untuk tiang tenda dan angkur untuk tali ) sehingga saat diperlukan dengan cukup mudah dan cepat didirikan tenda. Lebih lanjut, alangkah baiknya bila tempat tersebut bisa dilengkapi dengan fasilitas penerangan, air bersih dan kalau perlu toilet di bagian bawah platform.

    Di samping untuk tempat evakuasi bencana banjir pada musim banjir, tempat tersebut juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan lain di waktu tidak banjir. Seperti kita ketahui bersama bahwa di kota-kota besar dan terutama di kawasan padat penduduk, ruang publik sudah semakin hilang. Sehingga dengan demikian taman layang antara lain dapat dimanfaatkan pula sebagai :
    1. Taman bermain anak-anak.
    2. Taman rekreasi yang dilengkapi dengan pelbagai tanaman hias yang sekaligus sebagai  tambahan paru-paru kota.
    3. Fasilitas umum bagi masyarakat sekitar untuk pesta perkawinan, pesta agustusan, sholat-ied di hari lebaran, pesta tahun-baru bersama, nonton bola bersama, nonton layar tancep bersama dsb.
    4. Fasilitas umum untuk olahraga semacam badminton ataupun futsal.
    5. Ornamen kota untuk mengkoreksi arsitektur kota yang mungkin sudah terlanjur tidak tertata secara terkendali atau menyimpang dari estetika suatu kota yang nyaman dan indah, terutama di kawasan padat penduduk.
      Hanya satu hal yang harus diperhatikan, bahwa janganlah taman-layang dimanfaatkan untuk pasar, karena secara natural pasar selalu cenderung menjadi permanen atau paling tidak alot untuk digeser. 

      Pasti akan muncul pertanyaan, dimana taman layang akan dibangun mengingat lahan di kota-kota besar semakin mahal dan sulit dicari ? Memang benar bahwa untuk bangunan baru kendala utama adalah lahan. Namun ada keberuntungan yang berpihak pada konsep ini. Mengingat sifatnya  yang melayang maka fasilitas publik tersebut relatip mudah dicari tempatnya. Prinsipnya taman harus dibangun di atas lahan milik negara yang tidak  atau sedang difungsikan untuk keperluan lain atau tanpa mengganggu fungsi sebelumnya. Antara lain misalnya :
      1. Di atas sungai dan atau bantaran sungai.
      2. Di atas lahan negara yang belum atau tidak memiliki fungsi spesifik.
      3. Di atas jalan yang belum atau tidak akan dilewati jalan layang. Platform ini sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai fasilitas berteduh ( shelter ) bagi pengendara sepeda motor pada saat hujan, sebagaimana fungsi sampingan yang tak-sengaja dari jembatan dan jalan-layang yang sekarang ini dibangun.
        Permasalahan yang perlu mendapatkan perhatian adalah masalah pemeliharaan baik secara fisik maupun fungsi. Dari pengalaman kita selama ini bangunan-bangunan semacam itu dapat berubah menjadi pasar liar. Yang dperlukan adalah hukum yang tegas. Misal, jangan memberi kesempatan sekecil apapun menjadikan tempat semacam itu sebagai pasar liar. Kalau memang sungguh-sungguh hal tersebut pasti dapat dilakukan. Sebagai contoh pemda DKI telah berhasil me-revitalisasi Taman Puring di bilangan Jakarta Selatan dari sebuah pasar liar kembali menjadi sebuah taman yang cantik (semoga saja bertahan).

        Paparan di atas hanya sebatas ide. Realisasinya silahkan para ahlinya dan pihak-pihak yang mendapat amanah untuk menyelenggarakan kota untuk menanganinya. Sahabat-sahabat yang memang ahlinya seperti arsitek kota, planolog, ahli pertamanan-kota, ahli bangunan, arsitek bangunan, silahkan untuk mengkaji dan mengembangkannya agar menjadi rancangan yang optimal dan matang. Untuk mendapatkan pematangan ide yang lebih segar, kreatif dan progresif bisa saja dibuat sebuah lomba. Para walikota dan gubernur (atau mungkin menteri PU) tolong berkenan mempertimbangkan ide ini, untuk kesejahteraan, kenyamanan dan keselamatan warga.

        Dalam keterbatasan saya, telah saya coba melacak apakah ide semacam ini sudah ada atau pernah dipublikasi, terutama di Indonesia (1) . Bahkan saya sudah coba meski sepintas melacak beberapa situs paten. Namun sejauh ini belum pernah jumpa. Walaupun demikian, barangkali pernah ada kemiripan ide, atau bahkan sudah direalisasi, maka tidak ada maksud sedikitpun dari saya pribadi untuk melakukanplagiasi. Kalaupun terjadi demikian maka ini hanya kesamaan yang tak sengaja saja dan postingan ini merupakan reminder pada ide yang pernah ada bahwa kita perlu fasilitas evakuasi banjir yang LEBIH PASTI bagi warga yang terkena musibah.

        Kalau beberapa abad lalu Nebukadnesar membangun sebuah taman gantung di Babilonia untuk sang kekasih, yang akhirnya masuk jadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia, barangkali dengan membuat sejumlah taman-layang di DKI dan di kota-kota besar lainnya, maka bukan tidak mungkin taman-layang di Indonesia bisa menjadi keajaiban dunia berikutnya : sebuah negeri dengan seribu taman layang. Paling tidak kota-kota kita akan menjadi lebih segar cantik serta berseri dan pada saat yang diperlukan dapat digunakan sebagai penyelamat warga secara lebih pasti, lebih cepat dan lebih manusiawi. 

        Selamat berakhir pekan dan semoga menjadi akhir pekan yang indah bagi keluarga anda.

        (1)  Catatan
        Ide ini pernah saya publikasikan di milis alumni ia-itb beberapa bulan lalu.
        Tulisan di atas merupakan kompilasi dari sejumlah diskusi yang terjadi.


        Lihat juga di Kompasiana.